Catatan Perjalanan Kawah Ijen

Kawah Ijen

Setelah mengunjungi Baluran aku melanjutkan perjalanan ke Kawah Ijen. Yap Kawah dengan pemandangan api biru yang katanya cuma ada beberapa saja di Dunia.

Aku baru kembali ke kota Banyuwangi sekitar pukul 7 malam dan langsung check in di penginapan. Waktu yang sempit ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk istirahat, walau hanya sejenak karena tengah malam nanti aku harus menuju Kawah Ijen.

Sekitar pukul setengah 12 alarm sudah berbunyi yang menandakan waktu istirahat sudah selesai. Pukul setengah 1 aku berangkat menuju Kawah Ijen menggunakan motor. Saranku sih pake jaket anti angin serta sarung tangan. kenapa? karena pejalanan untuk mencapai parkiran Kawah Ijen membutuhkan waktu sekitar 2 jam dari kota Banyuwangi dan udara cukup dingin.

Akhirnya pukul setengah 3 pagi aku tiba di parkiran Kawah Ijen. Di parkiran banyak sekali yang menyewakan masker, saranku jika tak membawa masker sebaiknya menyewa disini karena di atas sudah tak ada lagi yang menyewakan.

Pintu masuk kawah ijen
Pintu masuk Kawah Ijen
Sumber: Dokumentasi Penulis

Setelah menyewa masker aku langsung membeli tiket dan berangkat. Medan menuju Kawah Ijen menanjak tapi tak terlalu terjal pada awalnya. Jalannya juga tanah yang cukup bagus dan bisa dilalui oleh taksi, yap ada taksi loh disini :p

Nah buat kamu yang tak kuat berjalan bisa menggunakan taksi pergi pulang. Taksi biasanya ditarik 3-4 orang, wajar sih dengan medan yang menanjak kalo tarik sendiri bisa kewalahan.

Medan Menuju Kawah Ijen
Penampakan medan menuju Kawah Ijen
Sumber: Dokumentasi Penulis
Taksi Kawah Ijen
Taksi ala Kawah Ijen
Sumber: Dokumentasi Penulis

Di perjalanan angin tak terlalu terasa karana pada sisi kiri dan kanan banyak terdapat pohon yang tinggi sehingga aku tak terkena angin langsung. Selama perjalanan banyak terdapat bangunan yang bisa dijadikan tempat untuk beristirahat senejak.

baca juga: Catatan Pendakian Gunung Pulosari

Mendekati puncak jalan akan semakin menanjak dan terdapat pondok yang berjualan makanan dan minuman. Aku sempat berheti terlebih dahulu di pondok untuk menikmati teh hangat di dalam dingin Ijen. 

Pondok Bunder Ijen
Pintu masuk Kawah Ijen
Sumber: Dokumentasi Penulis

Nah dari Pondok Bunder perjalanan sudah dekat serta medan juga akan semakin menanjak, di beberapa titik yang naik taksi juga terpaksa harus turun terlebih dahulu. 

Sekitar pukul 4 pagi akhirnya aku tiba di pinggir kawah, yeay! tapi untuk melihat api biru aku harus turun ke dalam kawah. Perjalanan turun sebenarnya cepat tapi ketika aku datang lagi sangat ramai jadi baru sampai di bawah sekitar 30 menit.

Hola Ijen!

Oiya jika ada penambang yang lewat berilah jalan terlebih dahulu. Sang penambang mencari uang untuk berjuang hidup tak seperti kita yang datang kesini untuk menikmati alam. Sang penambang bisa membawa beban 80-150 kg sekali angkut. Jadi kebayang dong gimana beratnya perjuangan hidup mereka.

Penambang belerang di Kawah Ijen
Penambang belerang di Kawah Ijen
Sumber: Dokumentasi Penulis

Aku tak sempat mengabadikan foto sang api biru karena tak tahan dengan perihnya asap belerang di mata dan paru-paru. Jadi kali ini cukup dinikmati dengan mata saja. Tapi bayangkan sang penambang bisa menembus itu, aku yang menghirup sedikit saja sudah batuk-batuk dan mata terasa perih.

Setelah puas menikmati api biru saatnya menunggu sang surya terbit agar kawahnya terlihat. Perlahan sang surya mulai menyinari ke Kawah Ijen. Oh sungguh pemandangan yang sangat indah di depan mata.

Kerangjang para penambang belerang
Kerangjang para penambang belerang
Sumber: Dokumentasi Penulis
tempat sang penambang
Tempat sang penambang berteduh
Sumber: Dokumentasi Penulis
Tempat keluarnya belerang
Tempat keluarnya belerang
Sumber: Dokumentasi Penulis
Sang penambang yang sedang mengambil belerang yang baru keluar
Sang penambang yang sedang mengambil belerang yang baru keluar
Sumber: Dokumentasi Penulis

Aku mencoba mengangkat keranjang yang menurut sang bapak beratnya sekitar 120 kg yang berarti lebih dari 2x berat badanku. Sungguh aku hanya kuat beberapa detik saja.

baca juga: catatan perjalanan sumba

Untuk mengambil belerang juga butuh perjuangan menembus asap belerang yang tebal dan sang penambang hanya memakai masker dari kain biasa. Oh sungguh super sekali. Aku yang melihatnya mencoba merasakan langsung bagaimana rasanya menambang belerang, oh sunggu perjuangan yang sangat berat. 

Kerajinan tangan dari belerang
Kerajinan tangan dari belerang yang dijual oleh penambang
Sumber: Dokumentasi Penulis

Setelah puas menikati Kawah Ijen kami bersiap untuk turun. Ternyata di perjalanan turun pemandangan sungguh sangat indah. Terhampar perbukitan serta Gunung Raung yang sangat menggoda untuk didaki.

Pemandangan Turun
Pemandangan Turun
Sumber: Dokumentasi Penulis

Nah itulah perjalananku di Kawah Ijen semoga dapat membantu buat kamu yang ingin menikmati keindahan Kawah Ijen. Selamat menikmati Ijen!

baca juga: Catatan Perjalanan Misool, Keindahan di Timur Indonesia

Catatan

  • Sewa masker 25k
  • Tiket masuk 7.5k
  • Gerobak PP 1.000k
  • Parkir motor 5k

 

Leave a Reply