Catatan Perjalanan Gunung Prau via Dieng

Golden Sunrise Gunung Prau

Tujuanku kali ini adalah mendaki Gunung Prau yang berada di Dieng. Gunung yang mempunyai ketinggian 2565 mpdl itu terkenal dengan golden sunrisenya. Untukmu kamu yang seorang pendaki wajib banget mendaki gunung ini dan aku menyebut gunung ini dengan sebutan gunung cinta, kenapa? karena ada dua pasang gunung yang bisa kamu saksikan dari Prau, yaitu Sindoro Sumbing dan Merapi Merbabu.

Perjalananku kali ini dimulai dari kota kembang bersama dua orang wanita cantik. Kali ini aku menggunakan kerata api yang berangkat dari Stasiun Kiaracondong. Perjalanan menuju stasiun berjalan dengan lancar dan aku langsung masuk ke stasiun untuk menunggu datangnya kereta.

Akhirnya kerata tiba dan aku siap berangkat menuju Purwokerto. Perjalanan menuju Purwokerto ditempuh selama 8 jam. Setibanya di Purwokerto semesta kurang mendukung karena cuaca hujan, maklum karena aku mendaki bulan April yang merupakan musim peralihan. Perut yang sudah keroncongan juga harus segera diisi segara. Aku dan kedua wanita-wanitaku (anggap saja seperti itu karena aku yang mengajaknya untuk mendaki dan aku juga harus menjaga keduanya sampai pulang kembali) segera mencari makan di sekitaran stasiun.

Setelah mencari makan aku harus melanjutkan perjalanan menuju Dieng dan mencari moda transportasi yang sudah tak ada karena waktu menujukan pukul setengah 11 malam. Akhirnya aku bertemu dengan pendaki lain yang juga menuju Prau dan mereka sudah memesan pick up, setelah ngobrol-ngobrol dan menetapkan harga patungan akhirnya kami sepakat untuk berangkat menuju Dieng bareng.

Perjalanan menuju Dieng harus ditempuh selama kurang lebih 3 jam. Belum lama berjalan hujan kembali turun dan karena pick up tak ada penutupnya jadi kami harus memegangi terpal agar tak kehujanan. Ditengah perjalanan hujan berhenti dan akhirnya bisa melihat jalanan nan sepi di malam hari menuju Dieng. Ketika memasuki Dieng udara dingin mulai terasa, bayangin aja malem-malem naik pick up terbuka di Dieng. Akhirnya pukul 2 malam aku tiba di Dieng, Hola Dieng!

Esok paginya aku terbangun pukul 5 pagi dan melihat kondisi cuaca di luar, yap semesta sepertinya mendukung hari ini karena cuaca cukup cerah! karena kedua wanitaku masih tertidur dan aku juga masih ngantuk jadi aku putuskan untuk tidur lagi :p

Sekitar pukul 8 aku terbangun dan segera packing ulang untuk logsitik dkk. Setelah semuanya siap kami mencari makan di sektiaran basecamp dan pilihan jatuh pada mie ongklok! Sambil menunggu mie ongklok jadi aku melakukan pendaftaran di pos penjagaan.

Setelah perut kenyang aku bersama kedua wanitaku langsung bersiap menuju Prau dengan melewati jalur Dieng, semesta lagi-lagi kurang mendukung karena cuaca mendung.

Memulai Pendakian Prau via Dieng
Cuaca mendung di awal pendakian
Sumber: Dokumentasi Penulis

Diawal pendakian kami akan melewati ladang warga sampai di Pos 1. Pos 1 jaraknya sangat dekat hanya 10 menit dari basecamp. setelah melewati pos 1 hujan turun dan kami beristirahat sekaligus memakai jas hujan. Kami tak lama berhenti dan langsung melanjutkan perjalanan dengan mengikuti ritme kedua wanitaku.

Pemandangan ladang warga via Dieng
Pemandangan dari Pos 1 sebelum memasuki hutan
Sumber: Dokumentasi Penulis

Perjalanan menuju pos 2 sudah memasuki hutan dengan medan yang sudah cukup menanjak. Terlihat kedua wanitaku napasnya mulai tak terkendali dan aku menganjurkan untuk istirahat terlebih dahlulu, malkum keduanya baru pertama kali naik gunung.

Setelah beristirahat sejenak aku melanjutkan perjalanan dan hujan masih terus turun mengiringi perjalanan kami. Sekitar satu jam berjalan kami akhirnya tiba di pos 2. Di pos 2 kami beristirahat sejenak dan aku mengeluarkan cemilan karena melihat kedua wanitaku sudah kelelahan.

Setelah melahap habis cemilan kami melanjutkan perjalanan menuju pos 3. Medan menuju pos 3 hampir sama seperti perjalanan ke pos 2. Entah karena habis makan cemilan atau sudah terbiasa dengan ritme pendakian kedua wanitaku berjalan lebih cepat.

Setelah berjalan sekitar 45 menit sampai juga di pos 3. Pos 3 sama seperti pos 2 tak terlalu luas tetapi cukup jika membuka satu tenda sampai dua tenda. Terlihat kedua wanitaku sudah kedinginan akibat hujan, jadi aku memutuskan untuk tak lama-lama berisitrahat.

Dari pos 3 medan sudah mulai curam dengan tanjakan-tanjakan yang cukup terjal. Aku mengingatkan kedua wanitaku untuk berjalan pelan-pelan saja yang penting konsisten.

Jalur pendakian Prau ketika hujan
Jalur pendakian Prau ketika hujan
Sumber: Dokumentasi Penulis

Setelah 45 menit berlalu akhirnya tiba juga di puncak Prau! Tapi tak terlihat apa-apa karena hujan dan kabut sangat tebal sehingga jarak pandang hanya sekitar 3 meter. Karena semesta yang kurang mendukung kami langsung melanjutkan perjalanan menuju camp area.

Perjalanan menuju camp area melewati bukit teletubis dengan medan yang datar. Setelah 15 menit berjalan dengan terus diiringi air yang turun dari langit akhirnya kami tiba juga di camp area. Ketika tiba camp area masih sangat sepi dan aku segera memilih tempat untuk membuka tenda yang tak terlalu terkena angin langsung.

Setelah tenda siap aku mempersilakan kedua wanitaku segera masuk tenda. Di dalam tenda aku melihat pakaian kedua wanitaku basah dan segera aku menyuruhnya untuk mengganti. Karena akan mengganti pakaian otomatis aku diusir dari tenda, padahal kan sedang hujan diluar, yang kamu lakukan itu jahat :p

Setelah keduanya mengganti pakaian aku segera masak karena keduanya terlihat sangat lelah, kelaparan, dan kedinginan. Setelah makan hujan perlahan mulai berhenti tetapi kabut tebal masih menyelimuti tempat camp. Aku pun keluar tenda untuk mencari temanku yang katanya naik via Patak Banteng. Setelah berputar putar aku belum juga menemukannya.

Senja pun tiba tetapi hujan mulai turun kembali dan aku segera kembali ke tenda untuk masak yang anget-anget. Malam hari aku keluar kembali untuk mencari temanku tetapi belum ketemu juga dan karena sudah mengantuk aku akhirnya kembali ke tenda. Wanita-wanitaku juga terlihat sudah mengantuk dan bersiap untuk tidur tapi aku harus keluar tenda sejenak untuk memastikan guyline terpasang dengan sempurna karena angin menerpa dengan sangat kencang malam itu. Oke saatnya tidur dikelilingi wanita cantik :p

Ditengah malam aku terbangun karena seperti ada yang memanggil-manggil namaku, yap benar saja terntaya temanku baru sampai dan mencariku. Mereka mendaki berempat melalui Patak Banteng dan tak membawa kompor jadi otomatis harus mencariku di malam itu juga untuk makan.

Aku pun keluar menuju tenda mereka dan memasakannya karena semua sudah kedinginan akibat kehujanan selama pendakian. Rupanya semesta benar-benar tak mendukung sepanjang hari ini.

baca juga: film pendakian gunung yang wajib di tonton sebagai seorang pendaki

Esok paginya cuaca cukup bersahabat karena matahari mulai terlihat dan akan menghangatkan tubuh-tubuh pendaki. Aku bersama kedua wanitaku bersiap menyambutkan sang surya dari ujung camp.

Sunrise prau
Sang mentari yang masih malu-malu
Sumber: Dokumentasi Penulis
Sunrise gunung prau
Sang mentari yang akhirnya terlihat
Sumber: Dokumentasi Penulis
Puncak Prau
Prau di pagi hari
Sumber: Dokumentasi Penulis

Setelah puas berfoto dan menikmati sang mentari aku kembali ke tenda untuk menjadi koki dadakan. Di pagi itu juga semua tenda menjadi jemuran dadakan bagi para pendaki, maklum kemarin hujan turun sepanjang hari. Setelah makan dan menjemur kami berjalan jalan menjelajah sekitaran tempat camp dan menikmati pemandangan Prau.

Gunung Prau
Salah satu wanitaku
Sumber: Dokumentasi Penulis
Dieng dari puncak Prau
Dieng dengan latar Gunung Slamet
Sumber: Dokumentasi Penulis
Camp area Prau
Pasar Prau
Sumber: Dokumentasi Penulis

Setelah puas berfoto dan mengelilingi camp area kami kembali dan packing untuk bersiap turun via jalur Dieng kembali. Kali ini aku turun bertujuh karena temanku juga turun lewat jalur Dieng, katanya kapok pas hujan lewat Patak Banteng. Cuaca mulai berkabut ketika melewati Bukit Teletubis.

Bukit Teletubis Prau
Jangan lupa bawa turun sampahnya ya
Sumber: Dokumentasi Penulis
Bukit teletubis yang tertutup kabut
Bukit teletubis yang tertutup kabut dari puncak Prau
Sumber: Dokumentasi Penulis
Bunga Prau
Bunga di jalur Prau
Sumber: Dokumentasi Penulis

Perjalanan turun ke Dieng lebih cepat dari naik, kami hanya membutuhkan waktu 2 jam untuk sampai di basecamp Dieng. Setelah sampai kami beristirahat dan bersih-bersih sebelum melanjutkan perjalan ke Wonosobo. Di Dieng aku harus berpisah dengan temanku yang berasal dari Semarang karena mereka naik travel dari Dieng.

baca juga: catatan pendakian Rinjani

Pukul setengah 3 kami langsung menuju Wonosobo naik bus dari depan tulisan besar Dieng karena mengejar bus yang ke Bandung tapi sampai di terminal ternyata tiket sudah habis untuk hari ini dan baru ada untuk esok pagi! Aku benar-benar lupa memesan tiket jadi terpaksa harus bermalam di Terminal Mendolo semalam. Esok pagi barulah kami berangkat menuju kota kesayangan, yaitu Bandung!

Nah itulah catatan pendakian ke Prau, semoga pendakian mu bisa sukses dan semesta mendukung. Selamat mendaki, Salam Rimba!

Selamat tinggal Dieng dan Wonosobo sampai bertemu kembali!

Catatan:

  • Jika berangkat dari Jakarta banyak pilihan untuk ke Wonosobo dan jangan lupa langsung pesan tiket pulang ketika sampai di Terminal Mendolo
  • Bus keberangkatan dari Jakarta-Wonosobo biasanya berangkat pukul 4-5 sore tapi jika kamu baru keluar kantor jam 5 sore bisa memilih Damri yang berangkat jam 7-8 malam dari Terminal Damri Kemayoran
  • Bus Wonosobo-Jakarta berangkat jam 3-5 sore
  • Bus Wonosobo-Bandung berangkat jam 4-6 sore

 

  • Tiket KA Kiaracondong-Purwokerto = 67rb
  • Pick up = 35rb/orang
  • Simaksi Prau = 15rb
  • Minibus Dieng-Wonosobo = 20rb
  • Bus Wonosobo-Bandung = 85rb

Leave a Reply