Catatan Perjalanan Gunung Kelimutu

Danau Tiwu Ata Polo

Pernah denger nama danau tiga warna? Itu looh danau yang ada di uang 5000 lama. Danau yang legendaris itu loh. Oke! kalo lupa akan aku ingatkan uangnya yang mana. Kali ini tujuan aku mengunjugi flores untuk menikmati keindahan alam Kelimutu yang sudah sangat terkenal itu.

danau-kelimutu-pecahan-rp-5000
Uang pecahan Rp 5.000
Sumber: travellers.web.id

Bunyi baling baling-baling ATR 72-600 yang menuju Bali terasa sangat dekat yang membuatku tak dapat tidur nyenyak. Memang aku terlambat check in online karena lupa semalam keasikan ngobrol dengan dua wanita cantik yang berasal dari jogja di Bandara Praya, Lombok. Kami bercerita banyak hal sampai lupa waktu tanpa disadari ketika melihat tangan jam sudah menunjukan pukul 12 malam. Dua wanita itu pun sudah tampak lelah dan mengantuk jadi kupersilakan meraka istirahat karena pesawat yang akan dinaiki dua wanita itu berangkat pukul 6 pagi.

Saat memasuki ruang tunggu ada pengumuman dari pihak maskapai bahwa pesawat menuju bali delay satu jam. Aku tak ambil pusing akan hal itu karena aku sedang menikmati bukuku. Satu jam kemudian ada pengumuman lagi bahwa penumpang dipersilakan untuk boarding.

Hola Bali! ya karena penerbangan menuju Ende dari Lombok tak ada jadi mau tak mau harus transit dahulu di bali

Di bali seharsunya aku transit 3 jam tapi karena lagi-lagi pesawat delay aku harus menunggu sampai 5 jam. Jika tau akan begitu aku akan mampir dulu ke rumah temanku yang kebetulan dekat dengan bandara padahal dia sudah menawarkan tapi aku menolaknya karena takut ketinggalan pesawat, ya maklum lah jika solo trip kamu harus lebih waspada untuk urusan waktu penerbangan.

Akhirnya waktu yang ditunggu tunggu tiba, ada pengumuman dari maskapai bahwa burung besi yang akan aku naikin sudah dipersilakan untuk boarding! Aku sudah siap dengan kursi dekat jendela untuk menikmati indahnya Bali-Ende dari atas burung besi!

Pemandangan dari Bali menuju Labuan Bajo sangat indah, terlihat kepulauan Komodo yang sangat cantik dari burung besi! Pulau pulau itu seperti memanggilku untuk disinggahi! Aku harus ingat tujuanku bukan Komodo tapi Kelimutu, pesawat pun transit sebentar di Labuan Bajo.

Gunung Inerie
Gunung Inerie
Sumber: dokumentasi pribadi

Hola Ende! Tepat pada pukul 5 sore aku akhirnya sampai di Ende setelah terbang bersama burung besi selama dua jam. Bandara H. Hasan Aroeboesman, Ende tidak terlalu besar tapi memiliki pemandangan yang indah sebelum mendarat.

Setelah keluar di Bandara aku ditanyai oleh ojek dan supir mau kemana. Aku hanya menggelengkan kepala karena banyak sekali yang mengerubuniku dan aku bergegas ke ATM karena aku lupa mengambil uang cash di Bali. Untuk kamu yang ingin mengambil uang tenang saja karena setelah keluar pintu bandara langsung terdapat ATM BRI.

Aku pun pergi ke sudut Bandara dan beristirahat sejekan menikmati udara segar Ende. Setelah itu ada satu ojek yang mendekatiku dan bertanya ingin kemana karena sudah sore aku memutuskan untuk bermalam di Ende dan menuju hotel yang sudah sangat terkenal di kalangan backpacker yaitu Hotel Ikhlas.

Aku diantar ojek sekaligus diajak keliling kota sebentar. Ojek tersebut bernama Bang Anjas orangnya sangat baik dan siap menemani keliling kota Ende. Matahari sudah hampir tenggelam dan aku pun bergegas menuju Hotel Ikhlas. Bang Anjas pun tak mematok bayaran, katanya “bayar saja sudah seikhlasnya bang”. Sebenarnya letak Hotel Iklhas sangat dekat dengan Bandar, ketika melewati Gapura bandara belok kiri jika berjalan kaki hanya memakan waktu 5 menit.

Kemudian aku memasuki pintu hotel, sebenarnya ini bisa dibilang bukan hotel tapi seperti losmen dan harganya pun sangat terjangkau untuk seorang pelancong yang punya uang pas-pasan seperti aku. Akhirnya aku memilih kamar kamar mandi di dalam dengan harga Rp 80.000 semalam termaksuk sarapan pagi berupa roti dan teh/kopi.

Setelah memasuki kamar aku merebahkan badan sejenak dan tak lama kemudian aku bergegas untuk mencari makan karena cacing di dalam perut sudah tak bisa diajak berdamai lagi. Aku pergi keluar dan memilih makan pecel ayam yang tak begitu jauh jaraknya dari hotel. Di sekitaran hotel banyak sekali tempat makan jadi tenang saja tak perlu takut kelaparan. Harga makanan pun beranekaragam mulai dari Rp 20.000 – 40.000.

baca juga tips mendaki gunung rinjani

Jam tanganku sudah menunjukan pukul 10 pagi dan aku sudah bersiap untuk menuju Moni. Moni merupakan desa yang paling dekat jaraknya dari Kelimutu jadi turis yang ingin ke kelimutu biasanya bermalam terlebih dahulu di Moni.

Dari Hotel Ikhlas aku diantar oleh Bang Anjas ke terminal travel yang menuju moni, jaraknya kurang lebih 10 menit dengan naik motor. Ketika sampai travel yang memakai mobil Avanza langsung berangkat menuju Moni. Perjalanan ke Moni sekitar satu setengah jam dengan melewati jalan berkelok kelok ala flores yang mempunyai pemandangan sangat indah.

Setengah 12 aku tiba di Moni dan diturunkan di pinggir jalan oleh pak Supir. Biaya travel Ende-Moni Rp 50.000 jika supir meminta lebih bilang saja biasanya juga 50.000 pak!

Desa Moni
Desa Moni
Sumber: dokumentasi pribadi

Setibanya di Moni aku berjalan mengeliling desa yang tak terlalu luas, hanya berjalan 5 menit aku sudah sampai di ujung desa. Setelah berkeliling aku bergegas untuk mencari tempat bermalam, kaki ini akhirnya tiba pada Hotel Hidayah. Setelah sampai aku pun bertanya berapa harga untuk satu malam kemudian terjadilah percakapan:

Aku: Berapa harga untuk satu malam bang? dengan gaya bicara orang flores

Bang Brian: 250.000 bang

Aku: Ah… tak bisa kurang lagi kah bang? 150.000 sudah bang, untuk semalam saja

Bang Brian: Okelah bang, itu kamarnya yang ditengah ya dan kuncinya ada di dalam bang

Aku pun masuk dan kamarnya cukup bersih dengan kamar mandi dalam yang hanya terdapat pengahalan tembok. Mungkin kamar ini dirancang untuk orang berbulan madu haha

Setelah menaruh tas aku pun mengobrol panjang lebar dengan bang Brian dan sang istri. Bang Brian rupanya baru saja kehilangan anak karena penyakit hidrosefalus tapi bang Brian dan istri terlihat sangat tegar karena pecaya bahwa sudah ada yang mengatur ini semua

Menu makanan di Moni
Menu makanan di Moni
Sumber: dokumentasi pribadi

Cacing di dalam perut sudah tak bisa diajak berdamai lagi kemudian aku mencari tempat makan. Kaki ini kemudian berheti di sebuah tempat makan yang terlihat ada sepasang bule yang sedang menyantap nasi goreng. Oiya menu makanan disini disediakan untuk bule-bule maklum lah menurut bang Brian lebih banyak pengunjung bule ketimbang lokal yang dating.

Oiya di Moni terdapat ATM BRI jadi untuk kamu yang kehabisan uang cash jangan khawatir. Setelah makan aku kembali ke kamar dan inilah saatnya menikmati tidur siang!

Sore hari aku baru terbangun dan menikmati segelas teh hangat di depan kamar sambil membaca buku. Ah… terasa sangat nikmat hidup disini yang sangat jauh dari hiruk pikuk kota!

Saat sedang menikati sebuah bukuku bang Brian bertanya “besok pagi mau naik apa ke kelimutu?” aku menjawab mau naik ojek saja bang karena aku mau membuat video. Harga ojek motor untuk antar jemput yaitu Rp 100.000.

Udara malam hari di Moni cukup dingin seperti di Ciwidey, Bandung padahal ketika melihat ketinggian di jam tanganku sama seperti kota Bandung yaitu sekitar 700 mdpl.

baca juga cara ke Wae Rebo

Pagi jam 4 aku baru terbangun dan langsung bersiap-siap untuk menuju Kelimutu! Ketika aku bersiap siap ada yang mengetuk pintu dan ternyata ojek yang aku pesan tak enak badan dan abang itu memberitahu bahwa naik mobil saja Cuma beda 50.000 kok tanpa berpikir panjang aku langsung setuju. Oiya pake jaket yang hangat ya karena dingin di Moni saja sudah lumayan apalagi nanti di Kelimutu.

Ketika aku masuk mobil ternyata hanya berdua saja dengan bule dari Belanda. Di pertengahan jalan kami diberhentikan oleh petugas untuk tiket masuk. Harga tiket masuk Kelimutu cukup murah, yaitu 5.000 untuk wisatawan lokal. Tak lama setelah itu kami akhirnya tiba di parkiran.

Perjalanan dari Moni ke parkiran kelimutu ditempuh 40 menit dengan mobil­. Kondisi jalan 10 menit pertama rusak dan sedang ada pembetulan jalan tapi setelah itu jalan cukup bagus.

Jalan dari Moni ke Kelimutu
Jalan dari Moni ke Kelimutu
Sumber: dokumentasi pribadi

Dari parkiran hanya ada jalan setapak untuk melihat danau tiga warna yang nan cantik itu. Aku berlari menuju tugu kelimutu alhasil tak sampai 15 menit aku sudah sampai, harusnya jika berjalan normal dapat ditempuh sekitar 30 menit.

Parkiran Kelimutu
Parkiran Kelimutu
Sumber: dokumentasi pribadi

Kondisi jalan berbatu pada awalnya dan tanah. Petunjuk jalan cukup jelas jadi kamu tak perlu khawatir nyasar. Awalnya pada track berbaru terdapat lampu jalan yang menerangi tapi maskin dekat dengan tugu lampu sudah semakin jarang dan tak ada menjelang tugu.

 

Jalan setapak ke Kelimutu
Jalan setapak ke Kelimutu
Sumber: dokumentasi pribadi

 

Jalan setapak tanah ke Kelimutu
Jalan setapak tanah ke Kelimutu
Sumber: dokumentasi pribadi

 

Jalan setapak berupa beton
Jalan setapak berupa beton
Sumber: dokumentasi pribadi

 

Tugu Kelimutu
Tugu Kelimutu
Sumber: dokumentasi pribadi

Akhrinya tiba juga di tugu kelimutu! Jam tanganku menunjukan pukul 05.15 itu berarti sang surya baru akan memberikan kehangatan bagi bumi sekitar 35 menit lagi.

Di tugu ada yang berjualan kopi, teh, pop mie dan cemilan lainnya jadi tenang kamu tak perlu kelaparan. Aku sempat ngobrol dengan sang ibu yang berjualan katanya dia sudah 20 tahun berjualan di Kelimutu. Untuk kopi dan teh harganya 10.000

Tibalah waktu sang surya terbit tapi sayangnya kabut tebal masih menyelimuti Kelimutu sehingga aku tak dapat melihat sang surya muncul untuk menghangatkan bumi. Padahal menurut ramalan cuaca akan cerah tapi mungkin sang pencipta punya kehendak lain. Untuk kamu yang ingin melihat ramalan cuaca, matahari terbit, dan tingkat lekembapan bisa dilihat websitenya

Mungkin karena aku ke Kelimutu pada hari kerja jadi jarang sekali wisatawan lokal, bahkan cuma aku wisatawan lokalnya ketika menunggu sang surya selain guide bule yang memang orang asli flores, sejauh mata memandang hanya ada bule dan bule seperti liburan di Eropa!

Pada pukul 7 pagi akhirnya kabut mulai hilang dan sang surya mulai menghangatkan badanku yang kedinginan. Aku hanya terdiam sejenak menikmati keindahan Kelimutu bahkan sang bule sampai ada yang loncat-loncat kegirangan.

Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai
Danau Tiwu Nua Muri Ko’o Fai
Sumber: dokumentasi pribadi

Danau pertama yang akan kamu lihat adalah Tiwu Nua Muri Ko’o Fai, masyarakat setempat mempercayai danau ini merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa muda-mudi yang telah meninggal. Ketika aku menengok ke belakang ternyata kabut yang menyelimuti danau Tiwu Ata Mbupu mulai menghilang dan aku bergegas kesana.

Ada pemandangan yang sangat menakjubkan dan belum pernah aku lihat seumur hidupku. Ya terdapat pelangi bulat yang sungguh sangat indah! Ketika aku mengambil foto banyangan kita seolah olah berada di tengah pelangi tersebut! Sunggu menakjubkan!

Pelangi bulat
Pelangi bulat
Sumber: dokumentasi pribadi

Tak lama kemudian kabut tipis perlahan mulai menghilang dan begitu juga dengan pelangi bulat itu. Danau Tiwu Ata Mbupu mulai terlihat jelas, masyarakat sekitar percaya bahwa danau ini merupakan tempat berkumpulnya jiwa-jiwa orang tua yang telah meninggal.

Danau Tiwu Ata Mbupu
Danau Tiwu Ata Mbupu
Sumber: dokumentasi pribadi

Selanjutnya aku melanjutkan perjalanan ke Danau Tiwu Ata Polo yang jaraknya tak terlalu jauh dari tugu sekaligus turun kembali ke parkiran. View dari Danau Tiwu Ata Polo juga tak kalah bagusnya dari tugu Kelimutu.

Danau Tiwu Ata Polo
Danau Tiwu Ata Polo
Sumber: dokumentasi pribadi

Setelah puas menikmati ketiga danau tersebut aku pun bergegas untuk turun ke parkiran karena waktu sudah semakin siang dan panas semakin menyengat kulit.

Semalam perjalanan menuju parkiran Kelimutu masih gelap jadi tak tahu bagaimana kondisinya tapi sekarang waktunya menikmati perjalanan turun. Sebelum turun di mobil abang yang menyetir menawarkan ikut sekalian saja ke Ende karena dia mau menjemput tamu dan aku langsung meniyakan.

Sampai di Moni aku langsung sarapan karena perut sudah keroncongan setelah itu langsung lanjut packing karena siangnya aku sudah harus berangkat kembali ke Ende

Nah sampai situ dulu perjalanan Gunung kelimutu dari Ende, sampai bertemu di part selanjutnya untuk menikmati rumah pengasingan bung karno di Ende.

Leave a Reply