Catatan Perjalanan Banda Naira

Banda Naira

Perjalanan kali ini aku akan mengunjungi salah satu tempat yang menjadi impianku. Yap! Banda Naira, salah satu tempat yang ingin sekali aku kunjungi dari beberapa tahun lalu.

Perjalananku dimulai dari Ambon dan untuk menuju Banda Naira aku menggunakan Pelni. Untuk menuju pelabuhan Pelni dari Bandara dapat menggunakan angkot dari depan bandara dengan berganti angkot terminal, kalau mau jalan juga sudah sangat dekat sebenarnya.

Ada beberapa alternatif untuk menuju Banda Naira seperti menggunakan Pelni, Kapal Cepat, dan Susi Air.

Jika ingin naik Pelni bisa cek jadwal di websitenya langsung. Jadwal Pelni ke Banda Naira juga tak ada setiap hari. Waktu itu aku naik KM Nggapulu yang berangkat senin dan pulang sabtu. Perjalanan dengan menggunakan KM Nggapulu ditempuh selama 8 jam.

Jika ingin naik kapal cepat jadwal Tulehu-Banda Naira Selasa dan Sabtu. Sedangkan jadwal Banda Naira-Tulehu Rabu dan Minggu. Kapal cepat berangkat jam 9 tepat dengan lama perjalanan sekitar 5 jam.

Aku tiba di pelabuhan sekitar pukul 11 malam tapi antrian masih panjang karena penumpang belum diizinkan naik. Sekitar pukul 12 aku baru dapat naik. Oiya aku pergi bersama 5 orang temanku yang agak-agak gila semua.

Sesampainya di kapal kami tak dapat tempat, kondisi kapal pun penuh sesak bahkan untuk duduk pun sulit rasanya. Oiya di Pelni nomor tempat duduk tak berlaku, disini berlaku hukum siapa cepat dia dapat!

Setelah keliling akhirnya aku mendapatkan tempat kosong tapi hanya untuk 2 orang, itu saja sudah bersyukur sekali. Setelah mencari beberapa lama akhirnya kami mendapat tempat lagi tapi jauh terpisah, ya tak apalah yang penting bisa istirahat.

KM Nggapulu
KM Nggapulu merapat di Banda Naira
Sumber: Dokumentasi Penulis
Pelni
Kondisi di dalam Pelni
Sumber: barnabasjamottambun
Pelni
Kondisi di luar Pelni
Sumber: barnabasjamottambun

Jika sesuai jadwal kapal harusnya berangkat pukul 1 tapi kapal baru berangkat pukul 5 pagi! Entah rasanya aku ngantuk sekali hanya tidur seharian dan bangun-bangun sudah mau sampe :p

Sekitar pukul 2 siang kami akhirnya menginjakan kaki di Banda Naira. Hola Banda Naira! akhirnya aku bisa mengunjungimu setelah sekaian lama bermimpi.

Sesampainya kami langsung menuju hotel yang letaknya persisi di sebelah pelabuhan. Yap kami menginap di hotel pertama yang didirikan di Banda Naira yaitu Maulana. Hotel ini didirikan oleh Des Alwi yang merupakan anak angkat Bung Hatta.

Hotel Maulana
Hotel Maulana
Sumber: Dokumentasi Penulis

Di hari pertama kami tak melakukan banyak aktifitas karena masih lelah dengan perjalanan. Sore harinya kami mengunjungi Benteng Belgica. Benteng ini merupakan pertahanan utama karena berada di atas bukit. Belgica mempunyai beberapa versi sebelum pada ahkrinya rampung, yang terakhir ini merupakan versi ketiga.

Benteng ini indah sekali menurutku serta mempunyai pemandangan Gunung Api Banda yang sangat indah. Entah aku merasakan romantisme di benteng ini, melankoli sekali rasanya berada di Belgica.

Benteng Belgica
Naik tangga dulu ya sebelum sampai benteng
Sumber: Dokumentasi Penulis
Benteng Belgica
Benteng Belgica dari drone
Sumber: Dokumentasi Penulis
Benteng Belgica
Hola Belgica!
Sumber: @ahmad_hasanela
Banda Naira
Banda Naira di uang seribu
Sumber: Dokumentasi Penulis

Setelah dari Belgica kami nongkrong di taman depan gereja tua karena disini banyak yang berjualan, maklum perut harus terus diisi kan :p

Taman Depan Geraja Tua
Taman Depan Geraja Tua
Sumber: Dokumentasi Penulis

Hari Kedua

Hari ini kami akan pergi ke Pulau Run dan Nailaka. Sekitar pukul 9 pagi kami baru berangkat dan sekitar sejam kemudian kami akhirnya tiba.

Pulau Run ingin sekali aku lihat secara langsung. Dahulu Pulau Run pernah ditukar Belanda dengan Manhattan di New York. Bagi Belanda Run merupakan kekayaan alam yang sangat menggoda.

Pulau Run
Pulau Run
Sumber: Dokumentasi Penulis
Airnya sedang surut
Di sekitar Nailaka tapi airnya sedang surut
Sumber: Dokumentasi Penulis
Pala
Pala yang membuat Belanda datang ke Banda Naira
Sumber: Dokumentasi Penulis

Kekayaan alam Run berupa Pala yang dahulu harganya sangat tinggi, bahkan disebut sebagai emas hitam. Pulau ini sebenarnya tak terlalu besar dan Belanda saat itu rela melakukan apa saja demi mendapatkan Pulau Run, bahkan membunuh masyarakat asli Run.

Pulau ini sangat indah dengan terumbu karang yang berwarna-warni tetapi ketika kami datang laut sedang tak bersahabat. Awan mendung mulai datang serta gelombang mulai tinggi.

Kami juga diterjang badai di Pulai Nailaka, bahkan kami berteduh selama 2 jam. Ketika hujan reda kami harus segera kembali karena menurut sang om yang membawa kapal, ombak akan semakin besar ketika sore.

baca juga: Catatan Perjalanan Sumba

Di perjalanan pulang benar saja kami diterjang ombak yang sangat tinggi tapi sang om kapal nampak bahagia, aku bingung ketika itu tapi di akhir perjalanan aku baru mengetahui, si om akan senang jika ombak semakin tinggi karena ikan yang di dapat akan semakin besar.

Kami akhirnya tiba di hotel sekitar pukul 4 sore dan segera bersih-bersih karena sudah basah kuyup. Setelah bersih-bersih aku bertanya kepada sang penjaga hotel kenapa banyak yang menyelam di depan hotel. Ternyata di depan hotel terdapat Ikan Mandarin.

Ikan Mandarin merupakan salah satu ikan yang langka dan sangat cantik warnanya. Menurut sang penjaga ikan tersebut dibawa oleh Des Alwi dan kemudian berkembang biak di Banda Naira, tepatnya di depan Hotel Maulana.

Hari Ketiga

Tujuan kami hari ini adalah menuju Pulau Hatta. Pulau yang terkenal dengan bawah laut serta palungnya yang berada langsung di depan pantai. Perjalanan menuju Pulau Hatta menempuh waktu sekitar 1 jam.

Di perjalanan ombak masih sangat tenang tapi sesampainya kami di Pulau Hatta awan mendung sudah terlihat di depan mata. Kami sempat snorkeling terlebih dahulu tapi arus bawah laut sangat kencang, aku yang baru loncat saja langsung jauh dari kapal.

Tak lama hujan mendatangi kami dan aku pun langsung naik ke kapal. Kami segera bergegas ke sisi lain pulau sambil memancang daaaan kami mendapatkan tangkapan besar hari ini.

Mancing
Hasil tangkapan di sekitar Pulau Hatta
Sumber: barnabasjamottambun

Setelah mendapatkan ikan kami merapat ke pulau tapi karna ombak cukup tinggi serta air laut yang sedang surut kapal tak bisa merapat. Si om tetap mencoba merapatkan kapal dan hampir saja kapal kami karam. Kami langsung segera turun tanpa memperdulikan barang, alhasil kami merapat ke pulau Hatta tanpa membawa apa-apa dan kapal pun segera menuju ke lautan.

Disini kami makan siang sambil menunggu kapal bisa merapat kembali. Setelah beberapa jam air laut mulai pasang dan kapal akhirnya bisa merapat. Oiya suasana disini benar-benar tenang, damai, dan nyaman. Suatu saat aku akan kembali dan bermalam disini.

Pulau Hatta
Santai sejenak di Pulau Hatta
Sumber: Dokumentasi Penulis

Menjelang sore kami harus kembali dan perjalanan pulang sangat menantang karena ombak tinggi. Yaaap benar saja ombak membuat kapal bergoyang dahsyat. Ini merupakan ombak terparah yang aku rasakan selama hidup.

Kami yang ingin mampir ke pulau lain tak bisa karena ombak membuat kapal tak dapat merapat. Akhirnya kami langsung menuju Naira.

Hari Keempat

Hari ini rencana kami mendaki Gunung Api Banda! yap gunung yang sangat ingin aku daki selama beberapa tahun ini. Gunung ini mempunyai ketinggian 650 mdpl.

Kami berangkat sekitar pukul 6 pagi dari hotel dengan menyebrang menggunakan perahu terlebih dahulu. Gunung ini mempunyai jalur yang sangat khas gunung api yaitu tanah serta bebatuan kerikil.

Aku sarankan jika ingin mendaki gunung ini menggunakan sepatu karena medannya yang cukup menantang. Awalnya masih berupa tanah tetapi sekitar 30 menit berjalan mulai dihiasi dengan batuan kerikil yang membuat langkahmu dapat mundur kembali.

Jalur Gunung Api Banda
Jalur Gunung Api Banda
Sumber: Dokumentasi Penulis
Jalur Gunung Api Banda
Jalur Gunung Api Banda
Sumber: Dokumentasi Penulis
Puncak sudah terlihat!
Sumber: Dokumentasi Penulis

Waktu normal untuk pencapai puncak adalah 2-3 jam perjalanan tapi karena berjalan santai kami baru mencapai puncak setelah melewati 2,5 jam. Oiya tak ada sumber air disini, jadi bawa stok air yang banyak ya.

Yeay! akhirnya aku dapat berdiri di puncak Gunung Api Banda! Pemandangan dari sini sungguh indah, semua pulau kecuali Hatta dapat terlihat. Pantas saja ombak besar karena memang tak ada pulau lain yang menahan tingginya gelombang Laut Banda, laut terdalam di Indonesia.

Bau belerang sangat terasa disini, bahkan ada beberapa titik di jalur yang keluar asap belerang. Kawah Gunung Api Banda cukup besar tapi malah tak mengeluarkan asap ketika aku kesana.

Gunung Api Banda
Puncak Gunung Api Banda
Sumber: Dokumentasi Penulis

Kami berada di atas sekitar satu setengah jam dan panas terasa sangat terik. Karena sudah merasa lapar akhirnya kami memutuskan untuk turun. Oiya jangan salah arah ya karena ada beberapa jalur yang terlihat.

baca juga: Catatan Perjalanan Kawah Ijen

Perjalanan turun hampir sama dengan perjalanan naik karena jalur yang cukup terjal, temanku yang tak biasa mendaki tak dapat turun dengan cepat, jadi santai saja yang penting sampai bawah dengan selamat.

Setelah sampai dibawah kami langsung menuju hotel untuk makan, karena benar-benar lapar sekali rasanya. Oiya tak ada pos penjagaan disini jadi langsung naik saja.

Setelah makan dan bersih-bersih waktunya mengeliling Pulau Naira dengan sepeda. Pulau yang membuatku seperti kembali ke masa lalu, entah setiap langkah disini seperti aku kembali ke masa lalu. Pulau ini juga masih terjaga suasana sejarahnya. Dipulau ini aku juga merasakan suasana yang sangat romantis, entap kenapa aku juga tak paham.

Oiya pulau ini juga dahulu menjadi tempat Hatta, Sutan Syahrir, Tjipto Mangunkusumo pernah diasingkan oleh Belanda.

Rumah ketiganya juga masih ada walaupun kondisinya cukup mengenaskan menurutku. Tak banyak keterangan yang bisa didapat ketika berkunjung ke rumah tiga tokoh tersebut.

Rumah Hatta
Rumah Hatta
Sumber: Dokumentasi Penulis
Rumah Syahrir
Rumah Sjahrir
Sumber: Dokumentasi Penulis
rumah Tjipto Mangunkusumo
Rumah Tjipto Mangunkusumo
Sumber: @beth_vinita

Aku juga sempat mengunjungi Istana Mini, dahulu ini merupakan istana tempat tinggal gubernur residen yang bertugas di Banda Naira. Di dalam istana juga terdapat ukiran yang berada di kaca, ukiran tersebut merupakan pernyataan putus asa dari seorang yang bunuh diri.

Istana Mini
Istana Mini
Sumber: Dokumentasi Penulis
Ukiran di kaca
Ukiran kaca di Istana Mini
Sumber: Dokumentasi Penulis

Hari Kelima

Tak terasa ini merupakan hari terakhir kami di Banda Naira, pagi hari kami bangun untuk menuju benteng Hollandia di Lontohor.

Untuk sampai kesini kami harus menyebrang ke Pulau Banda Besar yang tak terlalu jauh, hanya sekitar 10 menit kami sudah sampai. Dari dermaga Banda Besar kami naik ojek untuk menuju benteng.

Jaraknya tak terlalu jauh, tak sampai 10 menit kami sudah sampai. Pemandangan dari sini sungguh sangat menawan, terlihat Gunung Api Banda dengan gradasi warna laut nan mempesona.

Benteng Hollandia
Pemandangan dari Benteng Hollandia
Sumber: barnabasjamottambun
Benteng Hollandia
Benteng Hollandia dari depan, sudah tak terawat dan hancur
Sumber: Dokumentasi Penulis

Dari Benteng kami ingin melanjutkan perjalanan ke tempat lain jadi ojeknya kami sewa. Kami melanjutkan perjalanan ke kebun Pala lalu ke sumur suci banda.

baca juga: Catatan Perjalanan Derawan

Sumur ini merupakan tempat yang sangat disucikan oleh orang Banda dan di tempat ini juga berlangsungnya Cuci Parigi. Yap festival terbesar di Banda karena acaranya berlangsung 10 tahun sekali.

Sumur Suci Banda Naira
Sumur Suci Banda Naira
Sumber: Dokumentasi Penulis

Sebenarnya tahun 2018 ini festival baru saja berlangsung tapi aku tak sempat menghadirinya, hanya terlewat beberapa hari saja.

Dari sumur kami segera kembali ke Naira karena waktu sangat terbatas dan pelni sudah menunggu kami untuk kembali ke Ambon. Eits tapi di dermaga aku melihat kepiting berwarna-warni dengan capit besar.

Kepiting warna warni dan capit besar
Kepiting warna warni dan capit besar
Sumber: Dokumentasi Penulis

Waktu untuk kembali telah tiba dan Pelni sudah bersandar, Semoga perjalananmu di Banda Naira menyenangkan, selamat nemikmati Banda Naira dan selamat berlibur!

Catatan

  • Pelni Ambon-banda Naira = 115k
  • Kapal cepat Ambon-Banda Naira = 410k
  • Kapal cepat Banda Naira-Ambon = 410K
  • Hotel Maulana room family 4 hari = 850k/orang
  • Benteng Belgica = 20k/orang
  • Rumah Hatta = 20k/orang
  • Alat snorkeling = 60k/hari
  • Kapal nyebrang ke Banda Besar = 10k/orang
  • Om Yusri ojek Banda Besar 082144132822 = 40k/motor
  • Kapal 2 hari di banda (Hatta, Run, Nailaka dan sekitarnya) 081381402731 = 2.000k/kapal
  • Pelni Banda-Ambon = 109k

7 Replies to “Catatan Perjalanan Banda Naira”

  1. kenal Banda Neira waktu ada duo Banda Neira, lagu-lagunya kalem enak, tapoi sayang uda bubar. eh ternyata ada pulau nya dan keren pula pulaunya. Semoga suatu saat bia kesana kak, hehe

    1. Halo Kak Khafid, iya sayang udah bubar. Pulaunya keren banget kak, aamiin.

  2. Mas mau nanya, untuk nyewa alat snorkling itu 60k/hari itu perorang kah? Dan bisakah disana camping di pantainya?

    1. Hola kak Arinda. Iya kak per orang. Bisa aja sih kak tapi harus siap dengan segala kemungkinan

  3. Avatar Aidil Jufri says: Reply

    Hallo kak mau tanya, kalo solo traveling ke banda kira-kira ada tidak paket tur keliling pulau2 di banda dari penyedia penginapan? Thx

    1. Hola Kak Aidil. Pas aku ke banda sih ngga ada, paling sewa kapal sendiri nanti dikasih nomornya sama penginapan yang punya kapalnya

  4. Avatar Aidil Jufri says: Reply

    Makasih kak udah dijawab, mau tanya lagi kak, hehe. Kalo penginapan kita langsung cari di sana tanpa booking dulu kira2 bakal dapet ga ya? Hehe. Sama ini kak mau minta itinerary punya kaka barangkali bisa jadi referensi saya.. Hehe

Leave a Reply