Catatan Perjalanan Baduy Dalam

Baduy luar

Perjalanan kali ini aku akan mengunjungi urang kanekes atau mungkin kamu mengetahuinya dengan sebutan baduy. Letaknya tak terlalu jauh dari Jakarta dan aksesnya pun terbilang mudah. Jadi untuk kamu yang berencana pergi kesana wajib baca cacatatan perjalanan ini.

Pada sabtu pagi pukul 5 aku sudah terbangun untuk bersiap-siap berangkat menuju baduy. Beberapa ritual harus dijalankan di kamar mandi sebelum keluar rumah :p. Setelah semua selesai aku berangkat menuju stasiun Tanah Abang.

Sampai di stasiun aku segera masuk karena Commuter Line yang akan aku naiki 5 menit lagi berangkat. Aku mengejar jadwal jam 06.25 agar tak terlalu siang sampai di Ciboleger. Perjalanan dari Tanah Abang – Rangkasbitung dapat ditempuh selama 2 jam.

Setelah sampai di stasiun Rangkasbitung aku berjalan keluar mencari angkot yang menuju terminal Aweh. Dari stasiun ke terminal Aweh hanya 10 menit jika angkotnya tak mangkal. Selanjutnya di terminal Aweh aku naik ELF menuju Ciboleger.

Saatnya meluncur ke Ciboleger dengan ELF. Kondisi jalan sejam pertama cukup bagus dan sejam selanjutnya mulai rusak dengan berkelok-kelok dan naik turun. Oiya Ciboleger merupakan gerbang utama untuk berkunjung ke Baduy. Sebenarnya terdapat beberapa gerbang menuju baduy yang paling sering dilewati adalah melalui Ciboleger dan Cijahe.

Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam akhirnya aku sampai di Ciboleger. Di Ciboleger aku juga sudah ditunggu oleh temanku yaitu, Aldi, Sapri, dan Pak Ardi yang merupakan bapaknya Sapri. Ketiganya merupakan orang asli Baduy dalam tapi Sapri sekarang telah menjadi orang baduy luar karena beberapa hal.

Aldi baduy dalam
Aldi Baduy
Sumber: dokumentasi pribadi
Pak Ardi Baduy Dalem
Pak Ardi Baduy Dalem
Sumber: dokumentasi pribadi

Ini memang bukan pertama kalinya aku ke Baduy dalam, setiap ke baduy aku seperti pulang. Aku memanggi bapaknya sapri dengan panggilan babe karena sudah kuanggap seperti bapakku sendiri. Jujur saja aku sempat kaget kenapa sapri pindah menjadi orang baduy luar tapi yang perlu dipelajari disini adalah toleransi yang sangat tinggi.

Sapri memang menjadi orang baduy luar tapi tak ada permusuhan atau pengucilan, dia tetap orang baduy yang mempunyai seorang bapak di baduy dalam. Kata bapaknya ‘ya itulah keputusan dia, dia juga kan sudah dewasa’. Oiya jika sudah keluar dari baduy dalam sapri tak lagi boleh tinggal disana, dia hanya boleh menginap satu malah saja seperti tamu pada umumnya.

Ada juga orang baduy yang kemudian pindah agama dan bukan menjadi orang baduy lagi walaupun masih tinggal di Ciboleger. Tak ada permusuhan atau pengucilan yang terjadi, silaturahmi tetap terjaga ketika sedang ada hari besar juga saling mengucapkan. Toleransi orang baduy menurutku sangat tinggi, kita seharusnya belajar dari mereka.

baca juga catatan pendakian gunung pulosari

Sebelum melanjutkan perjalanan aku makan terlebih dahulu karena mulai dari sini harus ditempuh dengan berjalan kaki. Di Ciboleger terdapat Alfamart, warung makan, dan penjual kebutuhan pokok. Jika kamu keberatan membawa barang orang baduy akan siap membawakan dengan bayaran seikhlasnya. Oiya biasanya banyak anak-anak yang menawarkan tongkat untuk teman hidup di perjalanan :p

Ciboleger
Ciboleger
Sumber: dokumentasi pribadi

Tak ingin berlama-lama di Ciboleger aku segera berangkat. Sebelum berangkat aku harus izin dahulu di pos depan yang berada di terminal dan juga izin pada Jaro. Setelah selesai waktunya berangkat! Oiya terdapat tiga kampung di baduy dalam, yaitu Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawarna. Tujuanku adalah kampung Cibeo.

Tata Tertib Baduy
Tata Tertib Baduy
Sumber: dokumentasi pribadi
Baduy luar
Baduy luar
Sumber: dokumentasi pribadi

Perjalanan awal melintasi perkampungan baduy luar dan di depan rumah berjualan oleh-oleh seperti kain, madu, souvenir dll. Setelah melewati perkampungan kondisi jalan mulai menanjak. Sebagian jalan awalnya masih di batu tapi ada juga yang berupa tanah.

jalur menuju baduy dalam
jalur menuju baduy dalam
Sumber: dokumentasi pribadi
jalan menuju baduy dalam
jalan menuju baduy dalam
Sumber: dokumentasi pribadi

Selama perjalanan aku melewati beberapa perkampungan baduy luar. Oiya di kampung bisanya ada yang berjualan tapi semakin jauh jarak kampung maka semakin dikit juga yang berjualan. Orang Baduy juga sangat ramah tak seperti yang banyak orang pikirkan. Ketika sedang beristirahat di salah satu rumah sang pemilik keluar kemudian menyuguhkan minuman, tentu saja bukan air kemasan tapi air yang berada dalam kendi dan sangat segar.

Perkampungan baduy luar
Perkampungan baduy luar
Sumber: dokumentasi pribadi

Oiya jika melihat foto diatas itu kok pake sandal dan kaos. Iya memang benar karena itu di baduy luar, di baduy luar sudah banyak penduduk yang menggunakan kaos. Terdapat beberapa perbedaan memang antara baduy luar dan dalam.

Baduy luar
Baduy luar
Sumber: dokumentasi pribadi

Ketika masuk kampung banyak sekali perempuan baduy yang sedang menenun, hasil tenun tersebut biasanya dijual ataupun untuk dipakai. Perempuan baduy biasanya sangat pemalu. Jika mau memfoto sebaiknya izinlah terlebih dahulu sebagai rasa sopan santun, ingat kita adalah tamu di rumah mereka.

Tak ada kendaraan hewan disini. Orang baduy dalam juga tak boleh menggunakan alas kaki karena menurut filosofi, mereka harus tetap selalu menyatu dengan bumi. Jadi orang baduy selalu berjalan kaki kemanapun dia pergi. Sapri, Aldi, dan Babe bahkan berjalan kaki sampai Jakarta selama dua hari.

Oiya orang baduy dalam tak boleh naik kendaraan tapi orang baduy luar boleh, jadi jika kamu melihat ada orang baduy naik kendaraan di Jakarta berarti mereka adalah orang baduy luar.

Setelah berjalan selama 2 jam akhirnya aku tiba di kampung gazebo, disini terdapat jembatan yang cukup panjang. Jembatan tersebut terbuat dari bambu dan tanpa paku. Dari sini aku berjalan menyusuri sungai dan melewati beberapa kampung.

 

jembatan bambu baduy
jembatan bambu baduy
Sumber: dokumentasi pribadi
Baduy luar
Baduy luar
Sumber: dokumentasi pribadi

Setelah gazaebo aku disambut dengan hujan yang cukup deras, aku sempat berhenti terlebih dahulu di kampung tapi karena tak kunjung reda akhirnya aku melanjutkan perjalanan. Perjalanan selanjutnya sudah hampir semua didominasi tanah. Kondisi jaluar naik turun dengan melintasi perbukitan. Perjalanan hujan cukup melelahkan karena tanah yang basah menjadi sangat licin. Bahankan di beberapa titik jalan tanahnya seperti bumbu gado-gado!

jalan menuju baduy dalam
jalan menuju baduy dalam
Sumber: dokumentasi pribadi
jalan menuju baduy dalam
jalan menuju baduy dalam
Sumber: dokumentasi pribadi
leuit baduy
leuit sebagai tempat menyimpan beras
Sumber: dokumentasi pribadi

Selama perjalanan aku terus mengobrol bersama Aldi, Sapri, dan Babe. orang baduy bukanlah yang tak tau informasi dunia luar sama sekali, mereka mengetahui apa yang terjadi di Jakarta. Waktu itu ketika aku pergi bulan januari dan sedang terjadi banjir mereka mengetahuinya. Bahkan Aldi dan Sapri juga bisa menggunakan bahasa gaul anak Jakarta.

Aldi dan Sapri juga sering loh berkunjung ke Jakarta. Ketika ke Jakarta biasanya mereka berdua menginap di rumah orang Jakarta yang pernah berkunjung kesini. Aldi dan Sapri bahkan jalan-jalan ke mall atau kalo kata anak gaul ‘ngemol”. Bahkan mereka telah berkunjung ke banyak mall yang bahkan belum pernah aku datangi, aku merasa kalah gaul :p

baca juga: cara mencuci jaket gunung

Bahasa asli orang baduy adalah sunda, sunda yang digunakan adalah sunda kasar karena aku mengerti bahasa sunda walaupun tak dapat berbicara secara lancar, maklum dulu sempat tinggal di bandung.

Orang baduy adalah penganut aliran kepercayaan yang baru-baru ini diakui oleh Negara, yaitu Sunda Wiwitan. Mereka juga mempunyai hari besar, yaitu Kawalu. Sebelum Kawalu orang baduy berpuasa. Saat Kawalu juga kita tak boleh berkunjung ke Baduy dalam, biasanya dilakukan dari Februari-April.

Setelah berjalan 1,5 jam akhirnya aku tiba di perbatasan antara baduy dalam dan luar yang ditandai dengan jembatan. Disini juga merupakan titik terakhir untuk foto karena setelah memasuki kawasan baduy dalam kamu tak boleh mengambil foto. Jadi untuk kamu yang ingin tahu bagaimana baduy dalam ya harus datang langsung :p

jembatan bambu baduy
jembatan perbatasan baduy dalam dan luar
Sumber: dokumentasi pribadi

Jangan sekali kali nakal mengambil foto karena ada hukuman dan denda adat yang menanti. Hormatilah lingkungan dan budaya orang baduy, ingat disini kita sebagai tamu dan sebagai tamu yang baik kita harus mengikuti aturan sang pemilik.

Bukan tanpa sebab tak boleh mengambil foto, itulah cara orang baduy menjaga alamnya. Orang baduy hidup sangat bergantung kepada alam. Orang Baduy dalam tak bergantung dengan uang walaupun beberapa kebutuhan juga dibeli denga uang tapi uang bukanlah hal yang utama.

Setalah memasuki kawasan baduy dalam kondisi jalan langsung menanjak sekali, tanjakan ini juga disebut sebagai tanjakan cinta. Setelah lelah menanjak turunan akan menanti di depan. Akhirnya setelah berjalan 30 menit dari perbatasan aku sampai juga di kampung Cibeo, baduy dalam.

Setelah sampai aku beristirahat sejenak menikmati udara yang sangat segar ini. Oiya di baduy dalam ada orang luar baduy yang berjualan minuman dan oleh-oleh. Di baduy dalam kali ini aku bermalam di rumah Aldi yang biasanya di rumah Sapri. Selagi istirahat Sapri membawakan air hangat gula aren dengan gelas bambu, yap ini adalah salah satu minuman kesukaanku di baduy. Rasanya sangat segar dan nikmat, jika kesini kamu harus mencobanya ya!

baca juga: catatan perjalanan kelimutu

Setelah itu aku bersiap untuk mandi. Disini tak terdapat kamar mandi bertembok seperti di kota jadi kamu harus mandi langsung di sungai. Di baduy dalam juga tak diperkenankan menggunakan sabun dan sampo karena dapat mencemari aliran sungai. Air sungainya pun sangat jernih sekali dan suasananya juga sangat menenangkan jiwa dan raga.

Untukmu yang perempuan dapat mandi di tempat yang berbeda dan katanya terdapat pancuran, kenapa katanya? Karena aku tak pernah datang langsung ke tempat perempuan mandi. Jadi kamu tak perlu khawatir seperti kejadian jaka tarup :p

Setelah selesai mandi aku kembali ke rumah Aldi. Karena perut sudah berbunyi waktunya makan. Aku makan dengan lahap makanan yang dimasak oleh orang baduy, rasanya sangat nikmat.

Rumah orang baduy berbentuk panggung dan tak menggunakan paku ataupun semen. Atap rumahnya pun tak menggunakan genteng tanah atau asbes tapi menggunakan daun pohon kelapa. Orang sunda pada zaman dahulu mempunyai filosofi bahwa ketika genteng yang terbuat dari tanah dijadikan atap berarti mereka adalah orang mati. Mengapa? Karena berarti tinggal dibawah tanah yang menandakan orang mati.

Untuk urusan menikah orang baduy melalui cara perjodohan, bahkan sejak dari kecil sudah dijodohkan. Disini juga terdapat kepala adat yang disebut Puun. Aku selama beberapa kali ke baduy belum pernah bertemu Puun karena tak sembarangan untuk bisa bertemu dengannya. Rumah Puun juga berbeda, jika kamu kembali dari sungai akan terlihat rumput hijau dan balok yang menghalangi, itulah rumah Puun.

Oiya di baduy dalam tak terdapat listrik dan sinyal ya tapi di beberapa titik perjalanan  terdapat sinyal. Setiap ke baduy dalam aku benar-benar merasakan hidup tenang tanpa kebisingan dan jauh dari hiruk pikuk kota, dan udara yang sangat segar.

Jam 7 malam biasanya orang baduy akan beristirahat karena saat subuh mereka sudah berkatifitas tapi jika ada tamu kamu akan ditemani dahulu. Untuk yang muslim juga dapat solat di dalam rumah.

Aku juga mengobrol panjang lebar dengan Aldi dan Sapri, terutama Sapri mengapa pindah ke baduy luar dan aku tak dapat memberitahukannya disini. Sekitar jam 9 aku sudah mengantuk dan bersiap untuk tidur. Udara ketika malam memang belum terasa dingin tapi setalah melewati pukul 2 malam udara akan terasa dingin.

baca juga: Catatan Perjalanan Belitung 4 Hari 3 Malam

Pukul 5 aku sudah terbangun dan udara terasa dingin tapi sangat segar. Tak lama matahari pun menunjukan sinarnya. Seperti biasa aku berjalan jalan keliling kampung untuk menikmati baduy dalam. Suasanya benar-benar membuat jiwa dan ragaku sangat tenang.

Untukmu yang bertanya-tanya bagaimana cara untuk BAB, kamu dapat langsung pergi ke sungai. Yap kamu dapat melakukan ritual itu langsung disungai. Rasanya? Oh sunggu nikmat :p. Eits tapi sungai bagian bawah ya karena bagian atas dipakai untuk minum dan mandi.

Jam ditangan sudah menunjukan pukul 9 yang berarti aku harus bersiap-siap untuk pulang. Oiya jika kamu rombongan terdapat uang sampah sebesar Rp 50.000,. Untuk uang meninap Aldi, Sapri dan Babe tak pernah meminta tapi aku selalu memberikannya karena tak enak sudah merepotkan kemudian diberikan makan pula.

Jalur pulang aku melewati rute yang berbeda, yaitu Cijahe. Jam 9.30 aku pun meninggalkan kampung Cibeo dengan berpamitan terlebih dahulu dengan babe yang tak bisa mengantar karena harus pergi ke ladang.

Jembatan perbatasan baduy luar dan dalam jalur cijahe
Jembatan perbatasan baduy luar dan dalam jalur cijahe
Sumber: dokumentasi pribadi

Setelah 45 menit berjalan kamu akan melelewati perbatasan baduy dalam dan luar yang berupa sungai. Dari sini aku sudah boleh mengambil foto. Kondisi jalannya sangat berbeda dengan jalur Ciboleger yang cukup jauh dan menajak. Jalan  melalui Cijahe cukup datar dan dekat.

jalan menuju baduy dalam via lewat cijahe
jalan menuju baduy dalam via lewat cijahe
Sumber: dokumentasi pribadi
jalan menuju baduy dalam via lewat cijahe
jalan menuju baduy dalam via lewat cijahe
Sumber: dokumentasi pribadi

Setelah 30 menit berjalan aku sampai di pos 2. Pos 2 sampai ke Cijahe hanya 5 menit. Cijahe tak seramai Ciboleger tapi terdapat beberapa warung yang berjualan makanan. Oiya jika pulang melewati Cijahe kamu harus minta jemput supir ELF disini, pastinya dengan tambahan biaya karena letaknya yang lebih jauh dari Ciboleger serta kondisi jalan yang rusak.

Aku tak lama berada di Cijahe karena ELF sudah menjemput untuk menuju Rangkasbitung. Perjalanan dari Cijahe – Rangkasbitung ditempuh selama 3 jam. Kondisi jalan dari Cijahe rusak parah jadi bersiap-siap untuk dikocok selama perjalanan. Sesampainya di Stasiun Rangkasbitung aku segera masuk karena Commuter Line akan segera berangkat.

Selesai sudah perjalanan di Baduy yang memberikan pelajaran bahwa hidup itu sederhana, kita semualah yang membuatnya menjadi tak sederhana. Untukmu yang masih bingung atau mau bertanya juga boleh langsung komentar atau kontak aku.

Catatan

Kereta Tanah Abang-Rangkas = 8rb

Angkot Rangkas – Aweh = 5rb

Biaya Elf Aweh – Ciboleger = 30rb

Izin Ciboleger = 2rb

Izin Jaro = seikhlasnya

Sampah = 50rb

Guide Baduy Aldi dan Sapri = seikhlasnya

Rumah baduy dalam = seiklhasnya

Pesan lauk di Ciboleger = 40rb

Biaya Elf Cijahe – Aweh = 70rb

Angkot Aweh – Rangkas = 5rb

Kereta Rangkas – Tanah Abang = 8rb

4 Replies to “Catatan Perjalanan Baduy Dalam”

  1. Fajar Andriansyah says: Reply

    Bro, menarik..
    bisa minta kontak Aldi & Sapri?

    1. Boleh banget bro, nih kontaknya Aldi: 0857 1550 9375 dan Sapri: 0858 1072 0032

  2. Halo Mas, kisah yang menarik. Saya juga jadi mau ke sana nih. Mau tanya, jadi sampai ke baduy luar jam berapa ya? Baiknya kita jalan pagi ya? Trima kasih.

    1. Halo mas Wahyu, salam kenal!
      Ke baduy luar cepat mas, perkampungan paling luar hanya jalan 10 menit juga sudah sampai dari Ciboleger. Kalo berangkat dari Jakarta baiknya pagi mas, bisa naik KRL ke Rangkasbitung

Leave a Reply