Catatan Perjalanan Backpacker ke Ternate

Ternate

Pernah liat gambar di uang seribu lama? itu looh uang dengan latar belakang dua gunung dan perahu nelayan. Uangnya di tahun 2018 ini masih beredar kok di Indonesia. Oke deh kalo masih belum inget aku ingetin deh uangnya yang mana.

uang seribu 1000
Uang seribu dengan latar Pulau Maitara dan Tidore
Sumber: Dokumentasi Penulis

Kali ini tujuanku adalah menjelajahi Ternate, pulau cantik nan menawan di Indonesia bagian timur. Tepat jam 07.30 WIT aku mendarat di Bandara Sultan Babullah. Hola Ternate!

Aku yang membawa carrier dan tas kecil di depan langsung menjadi sasaran transportasi bandara. Menurut temanku jika naik ojek dari depan bandara harganya lebih mahal dibanding jalan sedikit sampai depan bandara. Jangan takut tak dapat ojek karena di Ternate banyak sekali ojek yang berseliweran.

Setelah mendapatkan ojek aku langsung menuju Kurnia Homestay. yap itu adalah tempat menginapku selama di Ternate (mumpung ada yang bayarin jadi gunakanlah :p). Jarak dari bandara ke homestay hanya 15 menit dan setelah sampai aku langsung check-in dan tidur. Kenapa langsung bukannya menjelajah Ternate? karena aku sudah terbang selama 5 jam dan tak bisa tidur nyenyak karena harus transit.

Barulah pada jam 12 siang aku keluar untuk menjelajahi Ternate. Tujuan pertamaku adalah menuju Benteng Tolukko yang jaraknya tak terlalu jauh dari homestay. Seperti biasa aku dipandu oleh pacar setiaku, yaitu google maps :p.

Hari ini matahari di Ternate seperti ada 3! Terik dan menyengat sekali. Perjalanan menuju Benteng Tolukko dengan motor hanya sekitar 10 menit. Jalanan di Ternate juga sangat lenggang tanpa macet sedikit pun.

Benteng Tolukko
Benteng Tolukko
Sumber: Dokumentasi Penulis
Benteng Tolukko dari udara
Benteng Tolukko dari udara
Sumber: Dokumentasi Penulis

Penataan benteng ini sangat rapih, pokoknya menurutku enak sekali di pandang. Oiya benteng ini dibuat oleh Portugis untuk menguasai perdangangan rempah-rempah di Ternate tetapi berhasil direbut kembali dibawah kekuasaan Sultan Baabullah. Tak lama berselang Belanda datang dan berhasil mengusai benteng ini. Letak Tolukko juga sangat strategis loh karena berada di atas bukit sehingga sangat mudah untuk mengawasi gerak-gerik lawan.

Udara yang sangat panas membuatku ingin minum es, segera ku cari dan mendapatkan penjual harga karun bernama es kacang ala Ternate yang sangat segar. Setelah melahap habis es kacang aku langsung menuju Benteng Kalamata.

Letaknya juga tak terlalu jauh, hanya sekitar 10 menit aku sudah sampai di Kalamata. Benteng Kalamata sendiri sangat unik bentuknya menurutku jika dilihat dari udara karena bentuknya menyerupai empat penjuru mata angin yang sedikit menjorok ke laut. Benteng ini dapat digunakan sebagai pertahanan dan serangan loh.

baca juga: film pendakian gunung yang wajib kamu tonton sebagai seorang pendaki

Benteng Kalamata dibuat oleh portugis dan menjadi perebutan beberapa negara seperti Spanyol dan Belanda selama 300 tahun loh. Bayangin aja selama 300 tahun benteng ini selalu diperebutkan, kalo aku sih mending memperebutkan kamu deh :p

Benteng Kalamata
Benteng Kalamata dengan latar belakang Pulau Maitara dan Tidore
Sumber: Dokumentasi Penulis
Benteng Kalamata dari udara
Benteng Tolukko dari udara
Sumber: Dokumentasi Penulis
Main sama anak-anak ternate
Main sama anak-anak Ternate
Sumber: Dokumentasi Penulis

Setelah puas menikmati serta bermain dengan anak-anak Ternate aku melanjutkan perjalanan ke landmark. Jaraknya tak terlalu jauh hanya sekitar 10 menit.

I love ternate
Berkeliaran sekitar landmark
Sumber: Dokumentasi Penulis
Landmark Ternate
Landmark Ternate
Sumber: Dokumentasi Penulis

Entah kenapa aku merasa suasanya nyaman dan pas sekali untuk melahap aksara demi aksara pada lembaran buku. Oiya disini juga banyak sekali tukang makanan dan minuman jadi tak perlu khawatir kelaparan. Air pantainya juga bersih dan terlihat beberapa anak-anak sedang asik berenang.

Hujan Lokal Ternate
Di Ternate sering sekali terjadi hujan lokal loh
Sumber: Dokumentasi Penulis
Ternate
Cantiknya Ternate dengan latar bekalang Gunung Gamalama
Sumber: Dokumentasi Penulis

Senja pun tiba tetapi aku masih tak mau beranjak dari sini dan memutuskan untuk menikmatinya sampai malam. Malam harinya aku bertemu dengan temanku di sekitar landmark  dan kemudian mengajak melihat sunrise dari Danau Ngade esok pagi.

Esok pagi sekitar pukul 5 aku sudah terbangun, bukan terbangun sih lebih tepatnya dibangunin dua alarm hp :p. Setelah itu aku langsung menuju Danau Ngade tapi sepertinya semesta belum mendukung karena hujan rintik-rintuk turun secara perlahan.

baca juga: catatan perjalanan pulau kei

Karenanya hujan kemudian temanku mengajak nongkrong di tempat kopi/teh yang mempunyai pemandangan uang seribuan lama dan aku langsung mengangguk tanpa ragu. Disini aku menikmati secangkir teh dan pisang goreng. Oiya pisang goreng disini makannya pake sambel ya, rasanya? beh jangan ditanya paling juara di kelasnya!

Pisang goreng sambal dengan view uang sepuluhribuan lama
Pisang goreng sambal dengan view uang seribuan lama
Sumber: Dokumentasi Penulis

Setelah itu aku pergi ke kebun cengkeh yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat kopi, sekitar 10 menit aku sudah sampai dengan jalanan cukup menanjak.

kebun cengkeh ternate
Kebun cengkeh ternate
Sumber: Dokumentasi Penulis

Rasanya pengen guling-guling disini tapi stok baju sudah menipis :p jadilah cuma foto-foto dan duduk santai sejenak.

Setelah puas menikmati kebun cengkeh waktunya ke spot uang seribuan. Tempatnya tak jauh dari kebuh cengkeh hanya sekitar 10 menit. Nanti dari jalan besar akan ada plangnya. Pantainya memang tak terlalu bagus dengan pasir hitam tapi pemandangannya itu loh sangat epik. Entah kenapa indah sekali sambil memandangi perahu nelayan yang berseliweran.

pemandangan uang seribuan
Pemandangan uang seribuan
Sumber: Dokumentasi Penulis

Dari view uang seribu aku melanjutkan perjalanan ke Danau Tilore yang jaraknya sekitar satu jam lebih sedikit. Danau Tilore ini ada dua yang besar dan kecil. Danau Tolire mempunyai kisah pilu menurut cerita setempat. Dahulu kala di suatu desa ada seorang ayah berhubungan intim dengan putrinya yang menyebabkan kehamilan. Nah kehamilan ini diketahui oleh penduduk desa.

Malu yang tak tertahankan membuat sang ayah harus meninggalkan desa tetapi belum sempat meninggalkan desa gempa dashyat menerpa yang menyababkan retakan tanah kemudian munculah air yang menyababkan desa tersebut tenggelam. Desa tersebut kemudian dikenal dengan Danau Tilore besar dan Danau Tilore kecil merupakan tempat pelarian sang putri yang tak luput dari bencana.

Disini juga ada legenda bahwa jika melempar batu tak akan pernah sampai di air karena tingkat gravitasi yang tinggi, bahkan pesawat katanya tak boleh melintas tepat diatasnya, aku juga jadi tak berani benerbangkan drone tepat diatasnya padahal sepertinya akan dapat foto keren. Batu lemparanmu juga tak bisa kamu lihat sendiri, harus ada orang lain yang melihatnya bahwa batu tersebut tak sampai ke air. Saking banyaknya yang melempar batu sampai-sampai batu juga dijual di tempat ini. Jadi ketika berkunjung kesini wajib mencoba ya melempar batu!

Danau Tilore Ternate
Danau Tilore
Sumber: Dokumentasi Penulis
Danau Tilore
Danau Tilore besar dan kecil
Sumber: Dokumentasi Penulis

Setelah puas menikmati keindahan Tilore aku bergegas menuju tempat selanjutnya, yaitu Batu Angus. Jaraknya tak terlalu jauh hanya sekitar 15 menit. Batu Angus merupakan batu yang berasal dari letusan Gunung Gamalama. Batu ini merupakan suatu kawasan yang cukup lebar bahkan sampa dekat bandara.

 Batu Angus
Batu Angus
Sumber: Dokumentasi Penulis

Setelah dari Batu Angus senjapun mulai tiba dan waktunya aku kembali ke homestay untuk beristirahat tapi sebelum kembali aku ingin mengisi perut dengan pecal ayam yang letaknya dekat dengan landmark. Harganya pun 15k dengan porsi yang cukup banyak.

baca juga: backpacker ke raja ampat

Esok paginya aku berangkat keluar dari homestay pukul 6 pagi untuk menikmati pantai. Yap waktunya bermain dengan air hari ini. Tujuan pertama adalah pantai Sulamadaha, itu loh pantai yang ada perahu seperti mengambang karena kejernihan airnya. Jarak dari homestayku sekitar 40 menit. Untuk sampai ke pantai ini kamu harus berjalan terus dari pintu gerbang sekitar 150 meter dengan melewati jalan yang cukup sempit.

menuju pantai sulamadaha
Menuju Pantai Sulamadaha
Sumber: Dokumentasi Penulis

Ternyata ketika aku datang kesini waktunya tak tepat karena masih terlalu pagi. Waktu yang tepat untuk datang kesini adalah diatas jam 10 siang karena sang surya sudah berada diatas jadi pencahayaannya cocok untuk foto.

Pantai Sulamadaha
Pantai Sulamadaha, bening banget kan airnya?
Sumber: traveluxion.web.id

Setelah puas bermain dengan air dan menikmati keindahan Sulamadaha aku melanjutkan perjalanan ke Pantai Jikomalamo. Jaraknya tak terlalu jauh hanya sekitar 15 menit dari Sulamadaha. Pantai ini sangat indah menurutku dengan pemandangan bawah laut yang cukup mempesona.

pantai jikomalamo
Pantai Jikomalamo
Sumber: Dokumentasi Penulis
pantai jikomalamo ternate
Pantai Jikomalamo
Sumber: Dokumentasi Penulis
bawah laut pantai jikomalamo
Bawah laut Pantai Jikomalamo
Sumber: Dokumentasi Penulis

Setelah menikmati Jikomalamo aku kembali ke homestay karena waktu sudah siang. Nah itulah perjalananku menjelajah Ternate yang sangat mempesona. Sebenarnya masih banyak tempat mempesona lain yang dimiliki ternate. Semoga perjalananmu di Ternate menyangkan dan satu pesanku; jangan buang sampah sembarangan ya! kalo bukan kita yang menjagannya siapa lagi?

Ringkasan Perjalanan:

Hari pertama: Homestay-Benteng Tolukko-Benteng Kalamata-Landmark

Hari kedua: Danau Ngade-menikmati teh+pisang goreng-Kebun Cengkeh-View uang seribuan-Danau Tilore-Batu Angus

Hari Ketiga: Pantai Sulamadaha-Pantai Jikomalamo-

Catatan:

  • Ojek dari depan bandara ke kota/homestay = 30k
  • Homestay = 140k/malam
  • Sewa motor = 200k selama di Ternate
  • Batu Angus = 10rb
  • Benteng Tolukko = gratis
  • Benteng Kalamata = parkir 2k
  • Kebun Cengkeh = parkir 5k
  • View uang seribuan = gratis
  • Danau Ngade = tak ada penjaganya jadi gratis
  • Danau Tilore = tak ada penjaganya jadi gratis
  • Pantai Sulamadaha = tak ada penjaganya jadi gratis
  • Pantai Jikomalamo = 5k

2 Replies to “Catatan Perjalanan Backpacker ke Ternate”

  1. Septiyan dwi suryana putta says: Reply

    Bang.. ada contact untuk sewa motor di ternate kah??

    1. Halo kak Septiayan.
      Ota sewa motor Ternate 0823 9377 6583

Leave a Reply